JAKARTA — Membangun budaya tertib di jalan raya tidak bisa dilakukan dengan metode instan atau sekadar menggelar razia musiman. Perubahan perilaku yang permanen membutuhkan proses internalisasi nilai secara berkelanjutan, yang idealnya dimulai dari bangku sekolah dan lingkungan perguruan tinggi.
Langkah jangka panjang inilah yang kini tengah gencar dieksekusi oleh Korlantas Polri guna menciptakan transformasi peradaban transportasi di Indonesia.
Kakorlantas Polri, Irjen Pol. Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum., menegaskan bahwa strategi edukasi keselamatan tidak boleh bersifat seremonial atau musiman. Edukasi harus dikemas secara konsisten, kreatif, dan menyentuh ruang publik yang paling dekat dengan denyut nadi anak muda.
“Edukasi keselamatan tidak boleh bersifat sesaat. Ia perlu dilakukan di sekolah, kampus, komunitas motor, ruang publik, dan media sosial,” papar Irjen Agus menjelaskan peta jalannya.
Polantas Hadir sebagai Mentor Generasi Muda
Melalui perluasan program strategis seperti Police Goes to School, gerakan Polantas Menyapa, hingga kampanye masif di media sosial, wajah kepolisian lalu lintas kini bergeser menjadi lebih bersahabat bagi anak muda. Polantas aktif menyambangi ruang-ruang kelas dan komunitas motor bukan untuk menakut-nakuti, melainkan bertindak sebagai mentor keselamatan berkendara (safety riding).
Pendekatan humanis dan dialogis sengaja dikedepankan agar generasi muda tidak merasa dihakimi, melainkan dirangkul sebagai mitra pelopor ketertiban.
Budaya disiplin yang ditanamkan sejak dini di aspal jalanan dipercaya akan membentuk karakter kedisplinan anak muda di sektor kehidupan sosial lainnya. Dengan konsistensi edukasi ini, Indonesia sedang mempersiapkan lahirnya generasi baru yang memandang tertib berlalu lintas sebagai identitas bangsa yang modern dan maju.

